Fakta

Harga BBM Naik, Produksi Pertanian Lahan Pesisir Pantai Utara Lamongan Terancam

Harga BBM Naik, Produksi Pertanian Lahan Pesisir Pantai Utara Lamongan Terancam

Selidiki.com, Lamongan – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dikhawatirkan membuat para petani di bagian pantai utara lamongan mengurangi luasan lahan garapan untuk menekan biaya produksi. Para petani yang masih banyak menggunakan BBM sebagai bahan bakar pompa air penyiraman, berpotensi terdampak atas kenaikan bahan bakar ini.

Ketua kelompok Tani Suwartirta Suparlin, Dusun Benges, Desa Sendangharjo, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan kepada media Selidiki.com menerangkan bila petani lahan di musim kemarau ini sangat tergantung oleh penyiraman secara manual.

Penyiraman ini biasanya menggunakan pompa yang ditenagai oleh BBM baik Solar maupun Pertalite. Kenaikan harga BBM pun turut berdampak bagi para petani karena penyiraman menjadi salah satu komponen penting dalam budi daya.

Baca juga: Viral Jalan Trans Penghubung Kotamobagu Mopuya Di Juluki Jalan Tak Berpemerintah dan Berhantu

“Penyiraman lahan dibanding dengan konsumsinya [BBM untuk] motor lebih banyak itu [penyiraman]. Minimal setengah hari itu, satu mesin 4-5 liter, satu pompa, bensin [Pertalite] atau Solar untuk luasan setengah hektare kurang lebih,” terangnya pada Sabtu (10/9/2022).

Hampir 90% petani yang tergabung dalam kelompok masih menggunakan BBM sebagai tenaga mesin pompa airnya. Kenaikan BBM juga berpotensi mendorong kenaikan alat dan bahan pertanian seperti bibit, pupuk maupun pestisida.

“Dengan ada kenaikan BBM, kenaikan pupuk, kami mau tanam banyak kan mikir-mikir,” ujarnya.

(Ketua pertanian)  para petani akan mengurangi luasan lahan garapannya yang secara tidak langsung berdampak pada jumlah produksi. Bila luasan lahan yang ditanami mengecil, maka produksi akan lebih rendah dibanding. Jika semua petani mengurangi luasan tanamnya karena kenaikan BBM, maka produktivitas panen akan berkurang dan hasil panenan yang ada akan jadi mahal harganya karena terbatas.

Baca juga: Tolak Kenaikan BBM, Giliran Ojol Berunjuk Rasa

“Dengan kenaikan BBM ini kemungkinan semakin mengurangi produksinya, sehingga ya nanti kalau produksi cabai berkurang akhirnya ya mahal cabainya. Misalnya dengan susahnya pupuk petani mengurangi penanamannya, BBM bertambah mengurangi luasannya, kan begitu sesuai kemampuan. Dengan akhirnya semua berkurang, otomatis produksinya semakin berkurang, dampaknya kan terjadi kemahalan harga apa-apa, kaya cabai mahal karena yang nanam berkurang”, ujarnya.

Selain menggunakan BBM, mesin pompa air sebenarnya dapat ditenagai oleh listrik maupun gas. Suparlin mencatat petani yang menggunakan pompa dengan bahan bakar gas ada sekitar 10%, dan sisanya menggunakan BBM. Namun, baik bertenaga gas, juga bukan tanpa kendala.

Sebenarnya pemakaian gas untuk mesin pompa dinilai Suparlin menjadi paling hemat. Meski harga gas naik, menurut hitungan Suparlin penggunaan gas jauh lebih irit ketimbang bahan bakar minyak BBM.

“Yang paling bagus itu listrik kalau bisa beralih ke listrik semua itu sangat hemat, walaupun harganya listrik dinaikkan tapi masih relevan untuk usaha. Sayangnya, tak semua lahan petani terjangkau jaringan listrik. Pemasangan listrik pun tak bisa sembarangan, lantaran lahan yang dipakai ada yang merupakan kontrak. Sebetulnya tinggal sumbernya saja, kalau ada listrik di situ ya nanti diganti listrik bukan diesel lagi tapi jet pump. Pakai jet pump lebih irit tapi masih jadi pertimbangan petani”, jelasnya.

Baca juga: Polres Tulang Bawang Bersama Mahasiswa UMPTB Bagikan 184 Paket Bansos Untuk Supir Angkot dan Tukang Ojek

Lanjutnya, energi gas juga jadi alternatif lain yang bisa dipakai untuk petani menjalankan pompa-pompa air penyiraman tanaman. Namun Suparlin menjelaskan bila bahan bakar gas ini sangat tergantung dengan pasokan elpiji. Ketika sedang langka, petani juga bakal kalang kabut mencari gas untuk menghidupkan pompa air.

“Gas tidak terlalu banyak kendala, walaupun lebih hemat [dari BBM] tapi kalau enggak biasa menghidupkannya agak susah kalau yang tidak terbiasa. Kalau yang listrik itu kan pencet saklar sudah hidup. Selain itu tergantung juga sama stok elpiji. Kadang-kadang elpiji juga susah,”tutupnya.

2 Komentar

2 Comments

  1. Pingback: Harga BBM Naik, Kenapa di Berbagai SPBU Antrian Semakin Mengular? - Selidiki.com

  2. Pingback: Polsek Brondong Raih Juara Umum Kejuaraan Pencak Silat Kapolres Cup Lamongan 2022 - Selidiki.com

Tinggalkan Balasan

To Top
error: Content is protected !!