Aceh

Cut Meutia : Malik Mahmud Masih Layak Menjadi Wali Nanggroe

Malik Mahmud Masih Layak Menjadi Wali Nanggroe

Dari Aceh Utara Maimun Samudra melaporkan,

SELIDIKI.COM, BANDA ACEH – Kisruh kepemimpinan Wali Nanggroe masih menjadi polemik di kalangan masyarakat dan pemerhati politik di Aceh. Salah satu politisi Partai Aceh, Cut Meutia merasa Malik Mahmud masih layak menjadi Wali Nanggroe untuk periode berikutnya.

Menurutnya pemangku Wali Nanggroe bisa dilihat dari dua narasi, narasi perang dan narasi damai.

“Jika acuannya narasi perang, maka pengganti Hasan Tiro sebagai Wali Negara lebih utama sosok yang diberi “cap sikureueng” atau amanah atau wasiat oleh Wali Hasan Tiro sendiri,” kata Cut Meutia kepada Selidiki.com, Kamis (13/12/2018).

Hanya saja, menurut aktifis Perempuan Merdeka itu, melihat Wali Nanggroe sekarang lebih tepat dalam dudukan narasi damai.

“Jadi, Malik Mahmud masih layak menjadi Wali Nanggroe,” kata politisi Partai Aceh itu.

Dijelaskan oleh Cut Meutia, sejarah Wali Nanggroe di era damai berbeda dengan tapak sejarah Wali Negara di era perang. Di era damai, Aceh memulai narasi sejarah baru, yang geraknya ke masa hadapan.

Baca Juga : Membongkar Sosok Hasan Tiro Sang Proklamator Kemerdekaan Aceh

“Menarik Wali Nanggroe dalam difinisi Wali Negara justru cacat sejarah. Wali Negara jalurnya adalah Famili Di Tiro, sedangkan Wali Nanggroe acuannya adalah generasi pemegang tali perdamaian Aceh. Saboh geunareh prang, saboh geunareh damee,” sebut Cut Meutia.

Adanya kritik rakyat terhadap LWN dinilai wajar. Pasalnya, LWN ada dalam dinamika politik keindonesiaan. “Dibutuhkan kesabaran berproses guna menemukan positioning yang tepat untuk memastikan LWN bisa memerankan diri secara lebih maksimal,” sebutnya.

Lebih lanjut, Cut Meutia mengajak semua pemangku kepentingan di Aceh untuk terus ikut menjaga ruh keacehan bersama Pemangku Wali Nanggroe.

Baca Juga : Gubernur Aceh Irwandi Yusuf Segera Diadili KPK

“Jika Wali dibiarkan sendiri, apalagi dipotong kakinya, oleh rekan seperjuangan, juga oleh publik, maka hasilnya tidak ada satupun pihak yang berdaya. Bukan hanya Wali yang jatuh, tapi juga semua kita, termasuk Aceh.

Akhirnya, Aceh yang kini menempatkan ulama, umara dan pemangku wali sebagai penjaga Aceh, sama-sama melemah dan sejarah baru keacehan tidak terwujud, sesama droe harusnya gaseh meugaseh, bila meubila, kecuali ka brat diduga meulanggeh,” tutup Cut Meutia.

Sharing is caring!
  • 920
    Shares
  • 920
    Shares
To Top
error: Content is protected !!