Edukasi Islam

Membongkar Matematika Lailatul Qadar

Membongkar Matematika Lailatul Qadar

SELIDIKI.COM – Sejak kecil sampai sekarang, saya merasa belum pernah menemukan lailatul qadar. Berbagai kolega dari kalangan dosen, mahasiswa, santri, kiai, bahkan guru besar ketika saya tanya juga tak berani menjawab kepastian kapan, dan apa ciri-ciri fisik malam mulia dari seribu bulan tersebut.

Seolah, lailatul qadar ini seperti kasus matematika yang harus dipecahkan. Sudah jelas lailatul qadar tak ada rumus matematis secara pasti. Namun Allah memberikan diskon bahkan “banjir pahala” pada Ramadan termasuk adanya lailatul qadar.

Dalam Alquran dan hadis, hanya menjelaskan secara global, tak spesifik. Seperti firman Allah dalam surat al-Qadar ayat 1-5, Allah memberi kunci lailatul qadar itu merupakan malam kemulilaan yang diturunkan Allah, dan malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Saat itu, malaikat-malaikat turun di malam penuh kesejahteraan itu sampai terbit fajar.

Kapasitas saya tidak mufasir, tapi mencoba tadabbur (menelaah) ayat di atas. Intinya, lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan, atau delapan puluh tahun.

Dari beberapa penafsir dan pakar hadis, saya menyimpulkan lailatul qadar bukan pengalaman ilmiah, namun lebih pada mistis.

Matematika Lailatul Qadar

Kita harus definisikan lailatul qadar dan kemuliaannya. Sesuai tipenya, ada tiga jenis ayat dalam Alquran. Pertama, ayat yang jelas dan semua manusia diberi tahu secara gamblang oleh Allah. Kedua, ayat yang mengajak diskusi, runding, atau debat. Ketiga, ayat yang tak bisa ditafsir.

Posisi lailatul qadar dalam surat Al-qadar sebenarnya pada posisi kedua. Menemukan atau tidaknya lailatul qadar, bukan ditentukan pengetahuan, gelar, apalagi materi. Melainkan, kesiapan kita, karena lailatul qadar itu bersifat empirik dan personal.

Lailatul qadar dari ayat di atas, dapat dimaknai malam ketetapan Allah yang jumlahnya hanya satu malam. Meski satu malam, namun sangat penting dan terjadi di bulan Ramadan. Kemuliaannya, dalam Alquran digambarkan sebagai malam lebih baik dari seribu bulan karena diperingati sebagai malam diturunkannya Alquran.

Secara umum, hampir semua umat Islam tahu definisi dan kemuliaan. Namun yang masih menjadi misteri itu kapan, di mana, jam berapa, apa indikatornya? Ini yang masih matematis. Mau dibedah dengan deret ukur atau deret hitung, akan susah dan hasilnya tak bakal integral, sempurna, dan pasti.

“Rasulullah bersabda; “Carilah malam lailatul qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadan” (HR: Bukhari 4/225).

Dari rumus ini mudah dipetakan lailatul qadar jatuh pada sepuluh malam terakhir yang ganjil pada Ramadan. Jika dihitung, maka akan ketemu malam 21, 23, 25, 27, 29.

Pendapat lain, menyebut tak pasti di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir, karena mau ada lailatul qadar atau tidak itu terserah Allah.

Abdullah Yusuf Ali (1872-1953) dalam kitab tasfirnya Holy Quran: Text, Translation and Commentary (1934) berpendapat lailatul qadar merupakan momentum personal. Sebab, tiapmuslim mengalami pengalaman spiritual sendiri.

Meski sudah ada rumus malam 21, 23, 25, 27, sampai 29 Ramadan, namun Nabi Muhammad tetap merahasiakan hadiah dari Allah bernama lailatul qadar itu.

Yusuf Ali juga berpendapat lailatul qadar sangat mungkin jatuh pada 17 Ramadan. Sebab, Perang Badar terjadi 17 Ramadan.

Sangat mungkin lailatul qadar jatuh pada tanggal ganjil setelah malam ke-10, bisa malam 11, 13, 15, 17, 19, 21, 23, 25, 27, 29. Namun, lailatul qadar bukan soal angka, melainkan peristiwa besar dan hanya diri sendiri yang tahu.

Hal itulah membuat H. Agus Salim menyimpulkan kita umat Islam di Indonesia memperingati Nuzulul Quran pada 17 Ramadan. Kemudian, perayaan ini diinstitusikan Bung Karno saat menjadi Presiden RI. Uniknya, hanya di Indonesia yang mengawali perayaan Nuzulul Quran.

Secara kuantitatif, mau memakai tafsir dan pakar Alquran mana pun, tak berani memastikan kapan lailatul qadar. Mau memakai tafsir Ibn Katsir, Imam Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili, Muhammad bin Zakariya ar-Razi, Jalaluddin al-Mahalli, Jalaluddin as-Suyuthi, Quraiys Shihab, HAMKA, Quraish Shihab, Hasbi Assidqiy, Mishbah Zainal Mustofa, semua tak ada yang bisa memastikan kapan datangnya lailatul qadar.

Secara presisi matematis, semua tafsir dan pakar gagal dan tak bisa membongkarnya. Tugas kita membongkarnya sendiri dengan terus menghidupkan malam di semua malam Ramadan.

Lailatul qadar menjadi bagian dari malam mulia dari malam lain yang dihadiahkan Allah. Seperti lailatul ijtima, malam Isra Miraj, Maulid Nabi, malam lebaran Idul Fitri/Idul Adha dan lainnya. Pembedanya, lailatul qadar itu malam yang memiliki dimensi waktu mistis, tak terbatas, sulit ditembus dengan angka, dan logika manusia.

Madjid (2000: 96) mengumpulkan tafsiran-tafsiran umum tentang beberapa indikator datangnya lailatul qadar. Pertama, lailatul qadar datang pada suatu malam sunyi, dan damai sekali sampai mathal’ul fajr (terbit fajar).

Kedua, tak ada angin bertiup dan tak ada daun bergoyang. Tentu saja, kata salamun dalam surat Al-qadar di sini dalam arti spiritual dan metafisis, bukan dalam arti fisik.

Ketiga, lailatul qadar ditemukan individual, bersifat personal namun harganya mahal. Bahkan, soerang Takdir Alisyahbana harus mengalami kecelakaan kapal dulu untuk mendapatkan lailatul qadar.

Keempat, semua orang bisa mendapatkan lailatul qadar asalkan qadr, memiliki kekuatan, kesiapan rohani yang datangnya bisa malam ganjil di akhir Ramadan. Atau, kapan saja di luar Ramadan. Sebab, lailatul qadar bukan soal waktu, tapi keseriusan, kekuatan manusia mendekatkan diri pada Allah.

Kita harus keluar dari ukuran benar-salahnya hitungan angka lailatul qadar. Allah lewat lailatul qadar mengajak kita melakukan transformasi spiritual, intelektual, bahkan budaya agar menghidupkan malam di tiap Ramadan.

Doktrin “malam lebih baik dari seribu bulan” bisa dipahami sebagai pancingan Allah pada manusia untuk terus mencari, meneliti, bukan menyimpulkan kepastian itu dan mengumumkannya pada publik.

Lebih penting lagi, semua malam pada Ramadan harus hidup. Umat Islam harus memaknai lailatul qadar dengan gerakan menghidupkan semu malam Ramadan.

Saat Ramadan, siang hari kita siyam (berpuasa) dan malamnya dianjurkan qiyam (berdiri) untuk salat, iktikaf, zikir, dan melakukan tradisi Islam di musala/masjid. Cara masyarakat Jawa menyambut lailatul qadar dengan tradisi qiyam bermacam-macam.

Di Jawa Timur ada tradisi maleman, dan oncoran, yaitu pemuda berkeliling desa dengan membawa obor. Di Jawa Tengah, secara umum ada tradisi maleman, dan apeman di malam ganjir Ramadan beserta khataman Alquran.

Lewat kekuatan qiyam inilah, semoga kita menjadi satu dari miliran manusia di dunia ini yang menemukan lailatul qadar. Sebab, lailatul qadar adalah peristiwa misterius yang tak tuntas untuk dituliskan!

*HAMIDULLOH IBDA, Dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Guru MI (PGMI) STAINU Temanggung, Alumnus Pondok Pesantren Mamba’ul Huda Pati. Tinggal di Semang, Jawa Tengah. (ymr/bt)

Sharing is caring!
  • 10
    Shares
  • 10
    Shares
To Top
error: Content is protected !!