Hukum

Alumni 212 Tutup Pintu Maaf Untuk Sukmawati, hukum Tetap Dilanjutkan

Alumni 212 demo sukmawati

SELIDIKI.COM, JAKARTA – Persaudaraan Alumni 212 sepakat ‘menutup pintu maaf’ atas laporan resmi mereka, terhadap Sukmawati Sukarno Putri. Mereka melaporkan Putri Bung Karno tersebut dalam kasus pidana dugaan penistaan agama lewat puisinya berjudul “Ibu Indonesia”.

“Kalau pribadi bisa saya memaafkan, tapi proses hukum sudah berjalan dan tidak akan dicabut tidak,” tegas Dedi Suhardadi, Sekjen Pembela Imam Besar Habib Rizieq Shihab, mewakili Persaudaraan Alumni 212 di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (4/4).

Baca juga: 5 Calon Pasangan Prabowo Menurut Survei Polcomm Institute, Gatot Paling Berpotensi

Dedi memprotes isi puisi Sukmawati. Menurut dia, azan adalah alunan yang sangat merdu dan tak bisa ada bandingnya dengan apa pun. Termasuk juga cadar, bagi Muslimah hal tersebut adalah syariat menutup aurat dan tidak sebanding dengan sari konde.

Laporan PA 212 diterima Bareskrim Polri dengan nomor LP/455/IV/2018. Pasal disangkakan adalah Penistaan Agama UU Nomor 1, 1946 KUHP 156a.

Baca Juga : Viral Tantangan Hadiah Mobil Mewah Untuk Penemu Video s3x Habib Rizieq Dengan Firza Husein

Diketahui, PA 212 merencanakan menggalang massa untuk menyuarakan aspirasi kasus ini lewat aksi demo hari Jumat 6 April 2018 di Masjid Istiqlal menuju Gedung Bareskrim Polri, Gambir Jakarta Pusat.

Demo ke Bareskrim

Dedi menambahkan, tak cukup dengan laporan pidana ke Bareskrim Polri mereka merencanakan aksi seperti saat kasus penistaan agama menimpa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Insya Allah. Jumat ya (6 April 2018),” kata Dedi.

Baca Juga : Sukmawati Tidak Cukup Dengan Minta Maaf, ini Harus Diproses Secara Hukum

Menurut Dedi, tidak ada tebang pilih terhadap siapa pun pelakunya dalam kasus penistaan agama. Meski Sukmawati adalah anak Proklamator Soekarno, sebagai kelompok yang menamai diri sebagai pembela Islam, Alumni 212 memiliki kewajiban untuk memberangus kebatilan yang menoda agama.

“Jadi besok Jumat itu. Kita memberikan support kepada Polri. Bahwa siapa pun melakukan penodaan agama dia harus mendapat perlakuan sama. Kalau memang perlu ditahan harus ditahan,” tegas Dedi.

Baca juga: Dianggap Lebih Parah dari Ahok, Politikus Hanura Laporkan Sukmawati ke Polisi

Dimulai usai Salat Jumat bersama di Masjid Istiqlal, lalu long march menuju Kantor Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat.

“Kami berharap ada keadilan. Ini pembelajaran untuk lainnya. Agar tidak ada lagi penodaan terhadap Islam, maupun agama lainnya,” Dedi menutup.

Reporter: Muhammad Radityo

Sumber: Liputan6.com

Sharing is caring!
To Top
error: Content is protected !!