Kesehatan

Selidiki Mengapa Difteri itu Dibilang Penyakit Berbahaya?

Apa itu Difteri, Penyebab Difteri, Mengobati Difteri

SELIDIKI.COM – Lima sampai 10 persen pasien dengan difteri telah meninggal. Bukan itu saja, dalam 20 persen kasus, penyebab kematian lebih banyak pada kelompok usia tertentu. Misalnya anak balita dan orang dewasa lebih tua dari 40 tahun. Namun, difteri dapat dicegah dengan vaksinasi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), difteri masih merupakan masalah kesehatan anak yang signifikan di negara-negara dengan cakupan imunisasi yang buruk.

Penyakit ini adalah salah satu penyakit anak yang paling ditakuti dan salah satu penyebab utama kematian pada anak-anak sebelum vaksinasi ada.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia dr. Aman Pulungan mengatakan bahwa sebagian besar komplikasi difteri disebabkan oleh pelepasan toksin.

Baca juga: Apa itu Difteri, Penyebab Difteri, Bagaimana Mengobati dan Mencegahnya?

Komplikasi yang paling umum adalah peradangan jantung yang menyebabkan irama jantung abnormal dan pembengkakan saraf yang dapat menyebabkan kelumpuhan sementara pada beberapa otot.

Jika kelumpuhan mempengaruhi diafragma atau otot primer untuk bernapas, pasien mungkin menderita pneumonia atau gagal napas.

Lapisan membran tebal di bagian belakang tenggorokan dapat menyebabkan masalah pernapasan serius, termasuk mati lemas.

Diagnosis difteri hanya dapat dikonfirmasi setelah dokter mengambil sampel kecil dari tenggorokan pasien yang terinfeksi penyakit ini dan diuji di laboratorium.

Seiring berkembangnya penyakit ini, pengobatan biasanya harus dimulai berdasarkan penilaian profesional kesehatan pasien.

Baca juga: Rachel Vennya Ajak Masyarakat Lakukan Vaksinasi Difteri Via Vlog-nya

Aman menambahkan bahwa pengobatan difteri biasanya dengan pemberian obat antibiotik dan difteri antitoksin. Siapapun yang dicurigai difteri akan diisolasi saat dirawat di rumah sakit.

Difteria antitoksin diambil dari kuda dan pertama kali digunakan di Amerika Serikat pada tahun 1891.

Antitoksin tidak mengeluarkan racun yang sudah menempel pada jaringan tubuh, tapi akan menetralisir racun yang beredar dan akan mencegah penyakit memburuk.

Pasien juga harus diuji kerentanannya terhadap antitoksin ini sebelum pemberian.

Seperti diberitakan dari Hai Bunda dan Channel News Asia, orang yang telah terpapar difteri bisa terkena lagi. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengambilan kembali vaksin difteri setiap sepuluh tahun sekali. Individu yang sembuh dari difteri harus diimunisasi sesegera mungkin.

Baca juga: Zaskia Gotik Ungkap Rahasia Hidup Sehatnya, Beginilah Caranya

—-

Sharing is caring!
  • 5
    Shares
  • 5
    Shares
To Top
error: Content is protected !!