Aceh

Forkab Aceh Kecam Sikap Jamaica Suatu Penghinaan Para Ulama

SELIDIKI.COM, BANDA ACEH – Keberadaan ulama bagaikan lampu penerang dalam kehidupan. “ Jika suatu kota memiliki banyak ulama, dipastikan kota tersebut akan terang benderang,” akan aman dan damai serta hidup kita diwarnai dengan kelembutan dan saling menghormati.

Forum Komunikasi Anak Bangsa (Forkab) Aceh kecam keras sikap Jamaica sebagai suatu bentuk penghinaan terhadap ulama.

“Seharusnya, Jamaica jangan gegabah bersikap tidak elok pada ulama tanpa menyadari komentar terlalu tajam dan tidak memperhatikan apa yang diucapnya,” sebut Humas DPP Forkab, Azhari, ST.

Baca Juga : Gubernur Aceh: Valentine Day Tidak Sesuai dengan Budaya Aceh dan Syariat Islam

Lebih lanjut Azhari juga mengatakan bahwa ulama adalah panutan umat, corong pembangunan karakter bangsa. Tanpa ulama bangsa akan tidak tentu arah. Tapi, pemerintah juga harus menganggap ulama itu aset bangsa, sebagai anak negeri, bukan musuh dan bukan pula pengkhianat. Jadi kedua pihak arus punya kesepakatan itu. Kalau dua-duanya bisa dipenuhi jalannya pasti akan bagus.

“Sementara itu, ulama sebagai pintu penerang bagi umat islam. Jangan coba-coba menghina ulama di muka bumi ini. Sepatutnya kita menjunjung tinggi para ulama. Namun keinginan nafsu dirinya tidak tercapai maka dirimu tega menghina ulama?,” ungkap Azhari Nisam.

Baca juga: Jelang Valentine Day Bupati Aceh Besar Keluarkan Surat Larangan Perayaan

Selain itu, Jamaica sebagai seorang politikus kelas tinggi di Aceh yang sudah berbaur dengan semua kalangan, seharusnya tidak pantas bersikap terlalu tajam pada ulama dan berani katakan ulama saja mencalon pengurus KIP, dimana dirinya mengakui seorang muslim begitu sikap dan bahasa tidak bermoral.

Karena itu, kewajiban Umat Islam untuk senantiasa dekat dengan ulama. Rasul SAW bersabda, “Akan datang pada suatu zaman di mana mereka tidak menghormati ulama kecuali karena bajunya yang bagus. Mereka tidak mendengarkan Alquran kecuali dengan suara bagus. Mereka tidak menyembah Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Tidak ada lagi rasa malu pada wanita mereka.

Mereka tidak puas dengan bagian yang sedikit. Mereka tidak puas pula dengan kekayaan yang melimpah. Mereka berusaha hanya demi perutnya. Agama mereka adalah uang. Wanitanya menjadi kiblat mereka (arah penyembah). Dan rumah-rumah mereka adalah masjid-masjid mereka. Mereka menjauh dari ulama sebagaimana anak biri-biri lari menjauh dari serigala.

Baca Juga : Senator Asal Aceh Turut Prihatin Terkait Isu Berita Pembangunan Kampus AKN Pidie Jaya

Semoga kita senantiasa menjadi umat yang bertakwa, selalu mengamalkan Alquran dan sunah Rasulullah SAW, jangan karena uang atau yang lainnya, jangan karena pangkat atau jabatan kita tidak lagi menghargai ulama.

Kita harus tetap menjaga dan hormat kepada ulama, taat kepada pemimpin yang adil, dan baik dengan tetangga dan kerabat, sungguh celakalah bagi orang-orang yang menghina para ulama.

Baca juga: Pembangunan Kampus AKN Pidie Jaya Rp 450 Miliar, Yayasan Budha Tzu Chi Bantu Rp 20 Miliar

Baca Juga : Dimata Hasan Tiro Aceh Sudah Merdeka?

Ikuti Media Sosial Kami

——

Sharing is caring!
To Top
error: Content is protected !!