Daerah

Dampak Bencana Banjir Di Aceh Utara, Hampir 12 Ribu Hektar Lahan Pertanian Alami Kerusakan Parah

Dampak Bencana Banjir Di Aceh Utara, Hampir 12 Ribu Hektar Lahan Pertanian Alami Kerusakan Parah

*Dari Matangkuli Hasanuddin Melaporkan

SELIDIKI.COM, LHOKSUKON –  Musibah bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh beberapa waktu belakangan ini merendam ribuan rumah dan sejumlah fasilitas infrastruktur. Aktivitas warga dilaporkan lumpuh total karena banjir yang melanda di beberapa kecamatan itu memiliki ketinggian air berkisar satu hingga dua meter.

Dampak dari musibah banjir, warga mengalami kerugian harta benda, termasuk ribuan hektar lahan pertanian juga terancam gagal panen.

Menurut pendataan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara, hampir 12 ribu hektar lahan pertanian milik warga mengalami kerusakan yang cukup parah.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara, Syarifuddin, Kamis (7/12/2017) mengatakan, lahan pertanian padi yang telah ditanami oleh para petani di wilayah itu sebagianya sudah memasuki musim panen. “Jumlah lahan pertanian yang terancam gagal panen mencapai 6.971 hektar sawah karena semuanya terendam. Itu ada di 16 kecamatan dari 27 kecamatan yang ada di Aceh Utara,” kata Syarifuddin.

Banyaknya areal pertanian warga yang rusak dihantam bencana banjir ini yaitu mencapai hingga 12 ribu lebih hektar, rata-rata areal pertanian padi. Kemudian disusul dengan insfrastruktur seperti sarana jalan, jembatan, bangunan dan tanggul serta sarana pendukung pertanian lainnya.

Dia menjelaskan, hampir sebagian besar lahan pertanian milik warga di Aceh Utara baru memasuki masa tanam. “Rata-rata bibit padi yang baru ditanam masih berusia 20 hari, dan ada yang sudah memasuki 104 -120 hari masa taman, itu mau masa panen. Kalau yang paling banyak lahan persawahan yang baru tanam,

” ujarnya. Sejauh ini, Dinas Pertanian dan Pangan kabupaten Aceh Utara belum bisa menghitung berapa jumlah kerugian akibat gagal panen ini. “Nilai kerugian belum bisa kita hitung. Jika dikalkulasikan jumlah produktivitas lahan pertanian rata-rat mecampai enam ton, harga gabah sekitar 5 ribu per kilogram. Namun jumlah yang real belum kita hitung,” katanya.

Syarifuddin menambahkan, untuk langkah penanggulangan pasca bencana banjir, pihaknya akan mengusulkan anggaran kepada pemerintah untuk memperbaiki kembali area persawahan yang terendam. sejauh ini pihaknya masih melakukan pendataan di lapangan terkait jumlah kerugian dan luas lahan pertanian yang terancam gagal panen.

Baca juga: Masyarakat Korban Banjir Aceh Utara Berharap Pemerintah Segera Beri Bantuan “Saprodi” Pertanian

Sementara terkait kerusakan ini, sebagian petani terus mencoba untuk terus membenahi sendiri areal pertanian agar bisa segera digunakan lagi. Tak hanya itu, petani terus berupaya menjemur padi-padi yang terendam banjir setelah dipanen. Selain tanaman padi, tanaman Kedelai dan jagung juga ikut tergenang banjir. Dimana luas lahan tanaman kedelai yang tergenang mencapai 59 Ha, dan Jagung mencapai 35 Ha.

Adapun penyebab terjadinya banjir selain dikarenakan musibah juga ada campur tangan manusia, menurut penuturan salah seorang warga Desa Udee, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, menyebutkan, kawasan itu terendam banjir karena semua sisi Krueng (Sungai) Keureuto dan Krueng Peuto memiliki tanggul. Dengan demikian, kawasan tanpa tanggul menjadi langganan banjir.

“Kecamatan Matangkuli saja misalnya, di sisi Desa Mee, itu sebagian tanggul sungainya ada. Seberang sana, sisi Desa Hagu itu tanpa tanggul. Maka kalau air sungai meluap, Desa Hagu pasti terendam,” terang Hidayatuddin. Dia menyatakan, antisipasi banjir seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah. Tanggul sebagai solusi jangka pendek yang harus dibangun secara merata.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) Aceh M Noer menyebutkan, penyebab banjir karena buruknya tata kelola kawasan hutan di kabupaten itu. Dia merincikan, luas hutan Aceh Utara seluas 36.794 hektar, hutan lindungnya 8.540 hektar, hutan produksi 27.461 hektar, dan kawasan konservasi 793 hektar.
“Kami dorong bupati berani me-review izin hak guna usaha, pertanian, dan tambang. Lihatlah secara nyata, jika melanggar hentikan, cabut izinnya,” kata M Noer.

Selain itu, pembangunan di kawasan hutan lindung juga terus terjadi sehingga alih fungsi lahan ini menjadi penyebab banjir. “Ada tren banjir semakin parah dari tahun ke tahun. Itu yang rugi pemerintah juga yang harus memplot anggaran untuk perbaikan pasca-banjir. Kalau rakyat sudah pasti rugi terus,” sebut M Noer.
Ditambah lagi, perambahan hutan secara ilegal masih terus terjadi. Sementara itu, Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib menyatakan, dia telah menghentikan izin perkebunan kelapa sawit dalam tiga tahun terakhir. Dia mengaku, perambahan hutan masih menjadi pekerjaan rumah.

“Kami perlu reboisasi besar-besaran. Ini harus dibantu oleh pusat,” kata Muhammad Thaib. Sisi lainnya, sambung pria yang akrab disapa Cek Mad ini, pembangunan Waduk Krueng Keureuto yang akan rampung pada 2019 diharapkan menjadi solusi banjir.

“Kalau waduk rampung, itu air Krueng Keureuto sudah ditampung di sana. Jadi, saat itulah bebas banjir,” sebutnya.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh memprediksi banjir akan semakin parah di Provinsi Aceh. Pasalnya, pemerintah kabupaten/kota di Aceh dinilai belum berani mengevaluasi pemberian izin hak guna usaha untuk perkebunan, izin tambang dan lain sebagainya.

Dia menyebutkan, pembangunan yang mengekploitasi lahan perkebunan menjadi penyumbang banjir lainnya di Aceh. Untuk menghentikan banjir itu, tata kelola kehutanan harus dievaluasi menyeluruh. “Harus dibenahi tata kelola lahan itu. Jangan sampai rakyat banjir terus dan semakin parah dari tahun ke tahun,” katanya.

Dia mendesak Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dan sejumlah kepala daerah kabupaten/kota berani menghentikan perusahaan yang melanggar perizinan di sektor hutan, tambang dan perkebunan.

Kini, banjir sudah berlalu. Bukan tidak mungkin banjir akan terjadi lagi. Masyarakat harus bergumul dengan rendaman air, merusak kebun, sawah, rumah, dan harta benda lainnya. Sampai kapan mereka bebas dari rendaman itu.(Hasanuddin)

—-

Sharing is caring!
To Top
error: Content is protected !!