Internasional

Guatemala Negara Pertama Ikuti Trump Pindahkan Kedutaan ke Yerusalem, Ini Kata Israel

Benjamin Netahanyu Presiden Israel

SELIDIKI.COM, GUATEMALA CITY– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji keputusan Guatemala untuk memindahkan kedutaannya ke Yerusalem.

Setelah hampir tiga minggu setelah Presiden A.S. Donald Trump mengambil langkah kontroversial untuk mengakui kota tersebut sebagai ibu kota Israel berbagai kecaman pun dan berbagai sekelumit peristiwa pun terjadi.

Salah satunya adalah pemindahan kedutaan negara ke kota yerussalem bagi kota yang mendukung keputusan Amerika Serikat.

Seperti dilansir thestar.com,  Guatemala telah membuat persahatan dengan negara israel dengan mengambil langkah memindahkan kedutaan besarnya ke kota Yerussalem.

Menanggapi keputusan Guatemala tersebut pihak Israel pun memuji Guatemala.

“Dari sini saya ingin mengatakan kepada presiden Guatemala: Tuhan memberkati Anda, teman saya, Presiden Morales,” kata Netanyahu di parlemen Israel di Yerusalem pada hari Senin (25/12/2017).

“Tuhan memberkati kedua negara kita: Israel dan Guatemala. Kami menunggumu di sini di Yerusalem. ”

Guatemala adalah negara pertama yang mengikuti keputusan Trump, yang menimbulkan rentetan kritik dari para pemimpin Arab, Eropa dan negara muslim lainnya.

Perdana menteri itu menambahkan bahwa ia percaya akan lebih banyak negara akan melakukan hal yang sama. “Nah, inilah negara kedua dan saya tegaskan: Ini baru permulaan dan ini penting.”

Presiden Jimmy Morales mengatakan pada hari Minggu (24/12/2017) bahwa dia telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri Sandra Jovel untuk memulai langkah tersebut dan telah menginformasikan Netanyahu tentang keputusan tersebut.

Baca juga: Lebih 30 Ribu Muslim Shalat Jum’at di Masjidil Al-aqsa Menolak Pernyataan Donald Trump

Baik Israel maupun Palestina menganggap Yerusalem sebagai ibukota mereka.

Namun, Keputusan Trump dilihat oleh orang-orang Palestina seakan-akan sebagai pendukung kontrol Israel atas seluruh kota.

Israel menduduki bagian timur Yerusalem pada Perang Enam Hari 1967 dan kemudian mencaplok wilayah tersebut, sebuah tindakan yang tidak diakui secara internasional.

Pengumuman tersebut disambut cemoohan di kalangan warga Palestina.

“Sepertinya Yerusalem telah menjadi jalan keluar bagi banyak pemimpin yang berada dalam masalah di dalam negeri baik itu Netanyahu, Trump atau Morales,” kata Hanan Ashrawi, anggota komite pelaksana Organisasi Pembebasan Palestina.

Baca juga: Akui Yerusalem sebagai Ibukota Israel, Demo Anti Trump Makin Meluas

Pekan lalu, Majelis Umum PBB telah memutuskan dengan sangat keras untuk menghardik A.S. karena pengakuannya atas Yerusalem.

Hanya sembilan negara – termasuk Guatemala – yang menentang resolusi tersebut, sementara 128 negara mendukungnya. Tiga puluh lima negara, termasuk Kanada, abstain.

Status Yerusalem telah menjadi salah satu isu paling sensitif dan eksplosif dalam konflik yang berlangsung puluhan tahun antara Israel dan Palestina.

Israel telah lama mengklaim Yerusalem sebagai “ibukota yang tak terbagi,” sementara Palestina menginginkan Yerusalem Timur menjadi ibu kota negara masa depan mereka.

Lebih dari 300.000 warga Palestina tinggal di Yerusalem Timur, termasuk tempat suci bagi orang Yahudi, Muslim, dan Kristen.

Baca juga: Putin Ucapkan Terima Kasih Ke Trump Atas Bantuan CIA Gagalkan Serangan

Sharing is caring!
To Top
error: Content is protected !!