Sosok

Selidiki Sosok Setya Novanto

Selidiki Sosok Setya Novanto

SELIDIKI.COM – Setya Novanto (lahir 12 November 1955) adalah seorang politikus Indonesia, sebelumnya ia merupakan ketua Partai Golkar dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Setya Novanto Lahir di Bandung. Dia memasuki dunia politik pada tahun 1998 setelah karir bisnis dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat setelah pemilihan umum tahun 1999.

Setelah terpilih kembali ketiga dalam pemilihan umum 2014 di Indonesia, di mana Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menang memegang minoritas di parlemen, dia pun ditunjuk menjadi ketua DPR oleh mayoritas koalisi oposisi.

Dia mengundurkan diri dari jabatan tersebut pada akhir tahun 2015 di tengah penyelidikannya atas pelanggaran etika.

Tahun berikutnya, dia diangkat sebagai ketua partai Golkar (Golongan Karya), dan pada November 2016 ia resmi diangkat kembali menjadi anggota DPR.

Setya Novanto telah dikaitkan dengan banyak kasus korupsi namun dia tidak pernah menghadapi tuntutan sampai terlibat dalam dugaan penggelapan dana dari proyek kartu identitas elektronik nasional (E-KTP) baru-baru ini.

Setelah ditangkap dan ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada bulan November 2017 lalu.

Hal yang menarik perhatian media nasional adalah pengunduran dirinya dari jabatan sebagai anggota DPR untuk kedua kalinya dan dikeluarkan dari jabatan ketua.

Dia pun diadili karena melakukan tindak pindani korupsi pada tanggal 13 Desember 2017.

Baca juga: Setelah Diselidiki, Ini yang Terlihat dari CCTV Saat Setya Novanto Kecelakaan

Riwayat Hidup Setya Novanto, Pendidikan dan Karir

Setya Novanto adalah anak Ke-lima dari delapan bersaudara. Setya Novanto lahir pada tanggal 12 November 1955 di ibukota Jawa Barat, Bandung, dari pasangan Sewondo Mangunratsongko dan Julia Maria Sulastri.

Setelah menyelesaikan TK, keluarganya pindah ke ibukota Jawa Timur, Surabaya, tempat dia memulai sekolah dasar.

Orang tuanya kemudian bercerai, dengan ayahnya tinggal di Surabaya, sementara ibunya dan anak-anaknya pindah ke Jakarta pada tahun 1967.

Ibunya mencari nafkah dengan menjual kue dari pintu ke pintu.

Setya Novanto memasuki SMP Tebet 73 (1967-1970) dan kemudian SMA 9 di Jakarta Selatan (1970-73).

Setelah SMA, Setya kembali ke Surabaya untuk pendidikan tingginya, namun kabarnya dia menolak tinggal dengan ayahnya dan malah tinggal bersama dengan temannya.

Dia belajar manajemen akuntansi di Universitas Katolik Widya Mandala. Dia menjual madu dan beras untuk menopang dirinya sendiri, dimulai dengan modal hanya Rp82.500 dan terus berkembang untuk menjalankan dua truk yang menjual beras yang dikirim dari Kabupaten Lamongan.

Setya juga mengoperasikan sebuah kios di Pasar Keputren kota namun dilaporkan bertabrakan dengan pasangan yang tidak jujur.

Saat masih mahasiswa, Setya mendirikan perusahaan bernama Mandar Teguh bersama Hartawan, putra direktur Bank Rakyat Indonesia untuk Surabaya.

Dia dipekerjakan oleh dealer Suzuki sebagai salesman mobil untuk wilayah Indonesia Timur.

Ia juga bekerja sebagai model dan dianugerahi gelar Most Handsome Man di Surabaya pada tahun 1975.

Setelah lulus dari universitas pada tahun 1979, Setya bekerja untuk PT Anindya Cipta Perdana, sebuah perusahaan yang secara berbeda digambarkan sebagai distributor pupuk, semen dan bahan bangunan untuk provinsi Nusa Tenggara Timur.

Perusahaan itu dimiliki oleh teman sekelas mantan teman sekelas Setya, Hayono Isman, yang kemudian menjadi menteri urusan pemuda dan olahraga di masa presiden Soeharto.

Baca juga: KPK Selidiki Dugaan Hilman Mattauch Sembunyikan Setya Novanto

PT Anindya Cipta Perdana dilaporkan gagal setelah dua tahun, namun hal tersebut menyebabkan keterlibatan Setya yang lama berjalan dengan Nusa Tenggara Timur, yang kemudian dia wakili sebagai legislator untuk empat syarat Partai Golkar.

Dia dilaporkan sering menjadi donor bagi gereja dan petani dalam kunjungannya ke provinsi tersebut, namun para pemerhati lingkungan menuduhnya mengeksploitasi masyarakat lokal atas keuntungan finansialnya semata.

Setya Novanto kembali ke Jakarta pada tahun 1979 dan tinggal di rumah Menteng Hayono.

Menurut Leo Nababan, seorang wakil sekretaris jenderal Golkar, Setya menjadi pembalap pribadi keluarga Hayono.

Di Jakarta, Setya belajar akuntansi di Universitas Trisakti dan membuka layanan fotokopi di dekat kampus untuk mendukung dirinya sendiri.

Karir bisnis Setya kembali mencuat setelah menikahi Luciana Lily Herliyanti, putri Kapolda Jawa Barat Brigadir Jenderal Sudharsono.

Dia mulai mengelola pangkalan mertua di Cikokol, Tangerang, kemudian bercabang menjadi ternak, kontraktor, jual beli kertas dan tekstil, dan pengembangan hotel dan lapangan golf. Kepentingan bisnisnya tersebar di Jakarta, Batam dan Kupang.

Sebagai pengusaha, Setya terbukti mahir dalam melobi dan berjejaring, terutama di kalangan orang-orang yang dekat dengan pejabat, dari pembantu hingga sekretaris pribadi dan bawahannya.

Ia pun nyaman membawa tas perwira militer berpangkat tinggi, seperti Jenderal Wismoyo Arismunandar. Ini memberi dia masuk ke komunitas elit organisasi olahraga Indonesia, yang didominasi oleh pejabat militer senior dan taipan.

Baca juga: Pengacara Sebut Setya Novanto Tidur Terus, Enggak Bangun-bangun

Pada tahun 1986, Setya menyelesaikan proyek Nagoya Plaza Hotel di Pulau Batam. Dengan mencari lebih banyak modal untuk resor yang lebih besar, dia mencoba mendekati sepupu Soeharto, taipan Sudwikatmono.

Setya dilaporkan menghabiskan waktu berhari-hari di tempat parkir, dari pukul 06.00 sampai 22.00, mencoba berbicara dengan Sudwikatmono, yang akhirnya memutuskan untuk memberinya kesempatan.

Kemitraan mereka menghasilkan pembukaan pada tahun 1989 dari Talvas Golf and Country Club (kemudian dikembangkan kembali sebagai Palm Springs Golf & Beach Resort),  lapangan golf dan resort seluas 400 hektar di Batam dengan biaya $ 100 juta. Ini diikuti oleh lebih banyak resor dan hotel, dan proyek telekomunikasi dan satelit.

Dari tahun 1995 sampai 1996, Setya adalah ketua Bamuhas Kosgoro, salah satu organisasi penyusun Golkar.

Dia adalah bendahara Komite Olahraga Nasional Indonesia dari tahun 1995 sampai 2003.

Hebat bukan?

Bagaimana dengan karir politiknya? Yuk kita lanjut lagi

Karir Politik Setya Novanto

Pada tahun 1998, Setya menjadi wakil bendahara Partai Golkar pusat, dan tahun berikutnya terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang mewakili Timor Leste yang diduduki oleh Indonesia.

Dia mengalami tahun yang sulit karena Timor Leste memilih untuk merdeka dan dia terjebak dalam skandal korupsi.

Pada tahun 2004, Setya terpilih kembali ke legislatif sebagai perwakilan dari Timor Barat.

Ia terpilih kembali pada 2009, mewakili daerah yang sama, dan menjadi pimpinan Fraksi Partai Golkar di legislatif.

Dia juga menjadi anggota Komisi III DPR, yang membahas masalah hukum dan keadilan, hak asasi manusia dan masalah keamanan.

Pada tahun 2014, Setya terpilih untuk keempat kalinya, masih mewakili Timor, dan terpilih sebagai pembicara Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia oleh oposisi Koalisi Merah Putih, yang pada awalnya menguasai parlemen.

Setelah tertangkap dalam rekaman yang menuntut saham dari Freeport Indonesia, Setya mengundurkan diri sebagai pembicara DPR pada tanggal 16 Desember 2015, tak lama setelah sebuah komite DPR memutuskan bahwa tindakannya telah melanggar etika DPR.

Setya terpilih sebagai ketua Partai Golkar pada konferensi partai 15-17 Mei 2016.

Baca juga: Setya Novanto dan Minimnya Budaya Malu dalam Politik Indonesia

Dia kemudian mengumumkan bahwa Golkar sekarang mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo, meski telah mendukung saingan Jokowi, Prabowo Subianto, dalam pemilihan presiden 2014.

Pada pertengahan November 2016, meski marah karena Setya menggunakan namanya atas permintaan saham Freeport, Presiden Jokowi mengundang Setya ke Istana Negara untuk menghadiri sebuah pertemuan.

Golkar kemudian memutuskan untuk mengembalikan Setya sebagai Ketua DPR, dan dia diangkat secara resmi pada tanggal 30 November 2016.

Pada tanggal 9 Desember 2017, dilaporkan bahwa Setya telah mengundurkan diri sebagai ketua DPR menjelang pengadilan korupsi yang menyangkut dirinya.

Dia pun mencalonkan politisi Golkar Azis Syamsuddin sebagai penggantinya. Wakil Ketua DPR Fadli Zon pada tanggal 11 Desember mengatakan pengunduran diri Setya telah diterima oleh sebuah pertemuan Dewan Musyawarah DPR namun penggantinya belum dipilih.

Legislator mengatakan bahwa DPR telah menerima surat pengunduran diri Setya pada tanggal 4 Desember dan 6 Desember, dan pertemuan Dewan Musyawarah telah memutuskan faksi Fraksi Partai Golkar harus menangani masalah penggantinya.

Tibalah pada tanggal 13 Desember 2017, Golkar pun menggantikan Setya dengan Airlangga Hartanto sebagai ketua partai.

Itulah dia sedikit biodata sosok bapak setya Novanto. Semoga bisa menginspirasi kita semuanya.

Baca juga: Setya Novanto Kini Punya Pengacara Baru, Sikap Fredrich Berubah

Sharing is caring!
To Top
error: Content is protected !!