Internasional

Akui Yerusalem sebagai Ibukota Israel, Demo Anti Trump Makin Meluas

Donald Trump Dibakar Palestina setelah akui ibukota Yerussalem Israel Selidiki

SELIDIKI.COM – Dalam beberapa dekade kebijakan Presiden AS Donald Trump telah mengalami kemunduran terhadap proses perdamaian Timur Tengah dengan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Para pemimpin di seluruh dunia, termasuk sekutu AS, mengecam keras langkah tersebut.

Beberapa demonstrasi di depan kedutaan besar AS di Timur Tengah dan Eropa terus meningkat. Jika dibiarkan terus berlanjut maka ini semua akan berpotensi menimbulkan kekerasan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Perdana Menteri Inggris Theresa May dan sejumlah pemimpin Timur Tengah termasuk di antara mereka yang mengkritik pernyataan Trump beberapa hari lalu.

Di Gaza, ratusan pemrotes Palestina membakar bendera Amerika dan Israel. Sementara ratusan demonstran berkumpul di luar konsulat AS di Istanbul, dengan beberapa melempar koin dan benda lainnya ke gedung tersebut.

Ratusan pemrotes juga meneriakkan slogan anti-Amerika di ibukota Yordania, Amman, yang didiami oleh pengungsi Palestina.

Mr Trump memaksa agar kebijakan AS berpihak pada negara Israel dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kotanya, meskipun ada peringatan dari seluruh dunia bahwa isyarat tersebut selanjutnya akan mengobarkan ketegangan Timur Tengah.

Dalam sebuah pidato di Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa pemerintahannya juga akan memulai sebuah proses untuk memindahkan kedutaan AS di Tel Aviv ke Yerusalem, yang diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun.

Trump menyebut keputusannya sebagai langkah “lama tertunda” untuk memajukan proses perdamaian.

“Kami tidak dapat memecahkan masalah kami dengan membuat kebijakan yang sama dan mengulangi strategi gagal yang sama di masa lalu,” katanya.

“Saya telah menetapkan bahwa sekarang saatnya untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Sementara presiden sebelumnya telah membuat janji kampanye besar ini, mereka takut untuk menyampaikannya. Dan hari ini, saya yang mengumumkannya.”

“Trump sengaja memaksa berada di zona merah”, kata seorang juru bicara Palestina.

Pemimpin Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa keputusan tersebut dilakukan AS hanya untuk menjadi mediator perdamaian.

Baca juga: 5 Daftar Jenis Anjing Paling Berbahaya dan Mematikan Di Dunia

Sementara Hamas marah dengan agresi mencolok AS terhadap rakyat Palestina. Kementerian Luar Negeri Iran pun mengatakan bahwa ini adalah pelanggaran resolusi internasional.

PM Inggris Theresa May mengatakan bahwa dia yakin langkah Mr Trump “tidak membantu dalam hal prospek perdamaian di wilayah ini”.

Presiden Libanon Michel Aoun mengatakan keputusan tersebut telah menunda proses perdamaian hingga beberapa dekade ke depan.

Juru bicara pemerintah Yordania mengatakan bahwa kerajaan tersebut menganggap  semua keputusan  sepihak yang berusaha menciptakan konflik baru di lapangan adalah batal demi hukum.

Kantor Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan “masa depan Yerusalem tidak ditentukan oleh sebuah negara atau presiden namun ditentukan oleh sejarah dan kehendak dan tekadnya dalam perjuangan Palestina”.

“Trump telah menyalahi janji-janjinya sendiri. Ia memandang deklarasi Yerussalem sebagai simbol superioritasnya sebagai pemimpin itu akan merugikan AS”, tulis kepala biro Washington Zoe Daniel.

“Saya pikir setelah ini dia memperkuat kekuatan militan  ekstremis di wilayah ini, ini adalah sebuah kecerobohan, sebuah pernyataan yang sama sekali tidak beralasan, sama sekali tidak dapat diterima,” katanya.

Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan bahwa perubahan kebijakan tersebut adalah “eskalasi berbahaya dan jalan buntu bagi semua orang yang mencari perdamaian”.

Guterres dari PBB mengatakan bahwa tidak punya  alternatif untuk solusi dua negara antara Israel dan Palestina. Jerusalem merupakan isu status akhir yang harus diselesaikan melalui perundingan langsung.

“Saya telah secara konsisten berbicara menentang tindakan sepihak yang akan membahayakan prospek perdamaian bagi orang Israel dan Palestina,” kata Guterres setelah pengumuman Mr Trump.

Baca juga: Tenyata Ini Alasan Jokowi Ganti Panglima TNI Gatot Nurmantyo dengan KSAU Hadi Tjahjanto

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji pengumuman Trump sebagai “keputusan yang bersejarah” dan mendesak negara-negara lain untuk memindahkan kedutaan mereka ke Israel ke Yerusalem. Dia mengatakan itu adalah “langkah penting menuju perdamaian” dan negaranya “sangat bersyukur”.

Sementara ini  tidak ada yang bisa dilakukan untuk kedutaan Australia, kata Julie Bishop. Menteri Luar Negeri Julie Bishop menjelaskan bahwa Australia tidak mendukung keputusan administrasi Trump. “Kami tidak pernah mendukung tindakan sepihak di kedua sisi, Kami percaya bahwa karena harus ada perdamaian abadi kedua belah pihak harus berkumpul dan menegosiasikan sebuah hasil, termasuk status Yerusalem,” katanya.

Ms Bishop mengatakan Australia tetap optimis bahwa solusi dua negara dimungkinkan tercapai, namun keputusan Presiden membuat perundingan mengenai Yerusalem Timur  menjadi kembali rumit. Dia juga mengatakan Australia tidak memiliki rencana untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv.

Warga Palestina turun ke jalan-jalan di Gaza

demo anti trump di gaza

Di Gaza, ratusan pemrotes Palestina membakar bendera Amerika dan Israel.

Mereka juga melambaikan bendera dan spanduk Palestina yang memberitakan bahwa Yerusalem (Darussalam) adalah  sebagai  ibukota abadi mereka.

Bahkan sekutu terdekat Amerika di Eropa mempertanyakan kebijaksanaan statement  Mr. Trump pada hari yang lalu, “hati-hati bersikaplah netral mengenai kedaulatan kota” katanya.

“Keputusan itu patut disesalkan bahwa Prancis tidak menyetujui … [itu] bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB,” kata Presiden Prancis Emmanuel Macron. Uni Eropa juga termasuk di antara mereka yang dengan cepat mengungkapkan keprihatinannya.

“Aspirasi kedua belah pihak harus dipenuhi dan sebuah cara harus ditemukan melalui negosiasi untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai ibukota masa depan kedua negara,” kata Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini dalam sebuah pernyataan.

Status Yerusalem sangatlah sensitif kota itu adalah tempat tinggal suci agama-agama termasuk  Muslim, Yahudi dan Kristen.

Masalah ini telah menjadi salah satu isu paling berdarah dalam upaya perdamaian Timur Tengah yang telah berjalan lama. Sedangkan Israel bersikukuh menganggap kota itu sebagai ibukota abadi dan tak terpisahkan dan menginginkan semua kedutaan besar berbasis di sana.

Warga Palestina menginginkan ibukota negara Palestina merdeka berada di sektor timur kota, yang dijajah  Israel dalam perang Timur Tengah 1967 dan dicaplok dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui secara internasional.

Sedangkan Keputusan Mr Trump kemungkinan akan menyenangkan pendukung utamanya – konservatif Republikan dan Kristen evangelis yang merupakan bagian penting dari basis politiknya.

Penasihat Trump berpendapat bahwa tindakan tersebut mencerminkan realitas Yerusalem sebagai pusat kepercayaan Yahudi dan fakta bahwa kota ini adalah tempat pemerintahan Israel.

Baca juga: Petugas Transjakarta Laporkan Dewi Perssik ke Polisi

Sharing is caring!
To Top
error: Content is protected !!