Daerah

Bendera Bintang Bulan Jadi Jualan Politik Parlok

ARYOS NIVADA, Pengamat Politik dan Keamanan Aceh

SELIDIKI.COM, BANDA ACEH – Mencuatnya kembali persoalan bendera bintang bulan di Aceh dinilai salah satu strategi politik partai lokal (parlok) untuk meraih simpati publik jelang Pemilu 2019.

Hingga kini, isu bendera dianggap masih sarat politik dan menjadi marketing politik paling ampuh bagi parlok jelang pemilihan.

Hal itu dikatakan pengamat politik dan keamanan Aceh, Aryos Nivada saat dimintai tanggapannya terkait isu bendera bintang bulan yang mencuat baru-baru ini.

“Pembasan bendera Aceh mulai mencuat jelang Pileg 2014, tercatat pada medio 2013-2014.

Baca juga: Video Pasukan Bertopeng Komando Tentara Aceh Merdeka Kibarkan Bendera Bulan Bintang

Kemudian sempat cooling down dan kembali heboh jelang Pilkada 2017, tepatnya medio Meret hingga Desember 2016,” sebut Aryos.

Artinya, sebut Aryos, isu ini memang selalu dimunculkan jelang kontestasi politik di Aceh, apakah itu pemilihan kepala daerah (pilkada) ataupun pemilihan legislatif (pileg).

Menurutnya, ini strategi politik yang sengaja dimainkan dan memiliki signifikansi dengan strategi partai lokal dalam meraih simpati publik dan menaikkan bergaining di hadapan Pemerintah Pusat.

“Sekaligus meneguhkan posisi partai lokal di mata publik sebagai partai yang komit dalam memperjuangkan MoU Helsinky atau UUPA. Itulah alasan kenapa hanya jelang pileg dan pilkada isu bendera mencuat ke permukaan. Ketika tidak pada momen itu, maka isu bendera relatif mengendur di DPRA,” kata Aryos.

Sebagaimana diketahui, isu bendera bintang bulan ini kembali muncul setelah anggota DPRA dari Partai Aceh (PA), Azhari Cagee menyerahkan selembar bendera bintang bulan kepada Wakil Gubernur Aceh dalam sidang paripurna Selasa (31/10).

Baca Laman Selanjutnya

Sharing is caring!

Laman: 1 2

To Top
error: Content is protected !!