Daerah

Tahun Politik 2019 Kejahatan Cyber Makin Meningkat

Tahun Politik 2019 Kejahatan Cyber Makin Meningkat

SELIDIKI.COM, YOGYAKARTA – Ahli teknologi cyber Pratama D Persadha menyayangkan tak kunjung terbentuknya Badan Cyber dan Sandi Negara. Kondisi ini membuat situasi rawan kejahatan cyber di tahun politik 2018 dan 2019.

Hal ini disampaikan Pratama usai menjadi pembicara dalam seminar sains dan teknologi “Tunjukkan Jogjamu Untuk Indonesia” di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rabu (4/10).

“Seharusnya Badan Cyber dan Sandi Negara sudah terbentuk 23 September bersama alokasi anggaran, strategi, dan rencana program sehingga bisa bekerja maksimal tahun depan,” katanya.

Kehadiran Badan Cyber dan Sandi Negara sangat dibutuhkan untuk menanggulangi serangan pencurian data dan informasi penting negara. Dengan informasi penting itu, pihak-pihak yang berkepentingan bisa menggunakan untuk mengontrol Indonesia.

Apalagi saat ini, Pratama menilai, keamanan cyber di Indonesia masih berantakan. Ia khawatir, pada tahun politik 2018 dan 2019, serangan melalui dunia maya akan semakin intesif untuk memecah Indonesia.

“Serangan cyber sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Namun era Jokowi masih kuat, sehingga kehadiran kejahatan cyber belum dirasakan. Hampir 58% pengguna internet di Indonesia juga tidak merasa mendapat serangan,” ujarnya.

Sejumlah negara telah memiliki lembaga semacam Badan Cyber dan Sandi Negara, seperti Malaysia, Singapura, Australia, dan Thailand, sebagai penanggulangan serangan cyber.

Badan ini dituntut juga membuat regulasi terkait pengadaan infrastruktur jaringan internet. Sebab, jika semua instansi pemerintah di pusat dan daerah terkoneksi, penjahat cyber akan mencari titik lemah jaringan.

Dihadiri Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, pendiri Lippo Group Muchtar Riyadi, dan Rektor UNY Sutrisna Wibawa, seminar digelar bersama pembukaan pameran teknologi informasi karya perguruan tinggi dan institusi selama 4-6 Oktober di UNY.

Dalam sambutannya, Sri Sultan menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi di DI Yogyakarta berbeda karakternya dengan kota-kota lain.

“Di DI Yogyakarta ilmu tentang teknologi informasi digunakan dan dimanfaatkan bersama demi kemajuan masyarakat. Berbeda dengan di Jakarta, Bandung, dan Bali yang kemajuan teknologi informasinya lebih banyak bertujuan materiil,” katanya.

Karena itu, untuk mendukung perkembangan teknologi informasi, Sultan memberi kesempatan secara luas kepada para pegiat untuk menghasilkan teknologi terbaik dan akan dikembangkan bersama pemerintah daerah.

—–GatraNews—–

Sharing is caring!
To Top
error: Content is protected !!