Daerah

Abu Khaidir dan Sri Mulyani Satu Visi Untuk Bangun Aceh Dengan Zakat

Abu Khaidir dan Sri Mulyani Bangun Aceh Dengan Zakat

BANDA ACEH,SELIDIKI.COM – Sosok Abu Khaidir yang akrab disapa sahabat Irwandi Yusuf (Gubenur Aceh) dan Sri Mulyani Indrawati, yang merupakan wanita dan juga sekaligus sosok orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.  Keduanya memiliki suatu ideology dan visi yang sama serta mengajak semua kalangan, Saling bahu–membahu untuk Sama-sama  Membangun Aceh dengan zakat.

“Menurut pandangan tim selidiki.com topik berita yang hangat dan bermakna islami seperti diatas, sangat cocok dibahas di tahun baru Islam 1 Muharam 1439 Hijriah. Hal ini juga bermakna sebagai cermin perjuangan, dalam memperbaiki kehidupan, yang disertai keberanian, perjuangan, dan sifat rela berkorban seperti yang dicontohkan Rasulullah saw”

“Mari kita simak berbagai ulasan, kedua tokoh tersebut yang di kutip tim selidiki dari berbagai sumber”

sosok abu khaidir yang ajak bangun aceh dengan zakat (foto :wali/selidiki.com)

Abu Khaidir mengatakan, Provinsi Aceh dikenal sebagai daerah yang menegakkan syariat Islam yang Ukhwah dan diakui negara-negara lain seperti Turki dan beberapa negara lainnya. Untuk itulah Abu Khaidir Pasee mengajak semua petinggi-petinggi di Aceh untuk memanfaatkan zakat untuk pembangunan Aceh lebih maju.

Menurut Abu Khaidir Pasee, membangun Aceh dengan zakat adalah hal yang sangat cocok dilakukan untuk memakmurkan rakyat dan menuntaskan persoalan kemiskinan secara rasional di provinsi itu. Setidaknya, kata Abu Khaidir Pasee, dengan zakat ini, Aceh kedepan tidak lagi bergantung pada sumber-sumber anggaran lainnya.

“Aceh akan maju dengan zakat, tentunya nanti bisa mengurangi beban dari anggaran-anggaran lain. Maka orang-orang dewan di DPRA mari duduk bermusyawarah bagaimana membangun Aceh dengan zakat supaya persoalan rumah dhuafa, fakir miskin dan lainnya bisa terselesaikan dengan zakat ini,” kata Abu Khaidir Pasee kepada GoAceh di Lhokseumawe.

menkeu sri mulyani (foto:pojoksatu/selidiki.com)

Sri Mulyani juga menyebutkan, ekonomi berbasis islami dan keuangan syariah, dengan konsep yang khas, semua telah berkontribusi dan akan terus mendukung untuk tercapainya tujuan pembangunan. “Ekonomi berbasis islam, dalam banyak hal telah selaras dengan tujuan pembangunan PBB. Zakat dan wakaf, misalnya juga telah banyak digunakan sebagai instrumen untuk mengangkat kualitas hidup dan sekaligus meningkatkan status ekonomi masyarakat miskin,” kata Sri Mulyani.

Apalagi, ekonomi berbasis islam berdiri di atas seperangkat tujuan komprehensif yang telah dirumuskan oleh para ulama islam sebagai tujuan syariah, yaitu perlindungan agama, perlindungan hidup, perlindungan intelek, perlindungan keturunan, dan perlindungan kekayaan atau harta benda.

Pengelolaan zakat seperti pajak juga bisa menyelesaikan masalah pengelolaan zakat di banyak negara islam termasuk Indonesia. Sebab, selama ini kewajiban membayar zakat disalurkan secara informal melalui keluarga, teman atau badan amal keluarga, sehingga menyebabkan pengelolaan zakat belum optimal.

“Jadi bagaimana mengolah, me-manage dana ini, karena ini sama seperti pajak, anda membayar dan tidak mengharapkan ini kembali, seperti pajak wajib berdasarkan UU, ini tujuannya melakukan pembangunan.

Zakat juga harus dikelola transparan, dan ini juga menciptakan keyakinan umat dan memenuhi pembayaran zakat, agar menggunakan sumber daya dengan baik,” sambung Sri Mulyani.
Pernyataan al-Qur’an bahwa kekayaan tidak boleh beredar hanya di kalangan golongan kaya dalam masyarakat, tetapi harus beredar dalam seluruh masyarakat untuk kepentingan keadilan sosial dan ekonomis, sebagaimana (Q.S Al-Hasyr : 7). Ayat tersebut, Selanjutnya siapa-siapa yang berhak menerimanya pun telah disebutkan dalam (QS At-Taubah : 60).

(Baca juga: Abu Khaidir Minta Pemerintah Fasilitasi Ulama Live Streaming di Internet)

Maka dengan demikian mari sama-sama kita menunaikan zakat untuk Menambah Ketaatan kita Kepada Allah SWT. Tentu saja zakat bisa membuat kita lebih taat kepada Allah SWT. Karena dengan berzakat kepada Allah artinya kita melaksanakan kewajiban yang Allah berikan kepada kita selaku hambanya. Bukankah syarat untuk menjadi taat adalah mematuhi perintah ?

Bahkan sebaliknya, jika kita tidak mengeluarkan zakat, tidak hanya mengurangi taat kepada Allah SWT, bisa saja ini membuat ketaatan kita kepada Allah SWT hilang, karena tidak ada taat yang setengah-setengah, wasalam dari tim selidiki.com, senin (25 september 2017).

Sharing is caring!
To Top
error: Content is protected !!